Next Post

Surat Terbuka kepada Presiden Joko Widodo dari Masyarakat Tone Tanah Maluku Tengah

439C30BF-BB81-4BDE-B77F-CDAF3D9A9E12

KABARNYATA.COM—Masyarakat Disun Tone Tanah Negeri Waru menyatakan keresahannya melalui Surat Terbuka Kepada Presiden Joko Widodo.

Mereka secara dengan jujur mengungkapkan perasaaan dan keresahan yang selama ini mereka alami.  Simak surat Warga Tone Tanah,

Sejak kepemimpinan Bapak Presiden Joko Widodo Tahun 2014 – 2024 hari ni, kami harus jujur sebagai warga bangsa bahwa ada perubahan besar yang di alami oleh seluruh warga bangsa dari Sabang sampai Mauroke.

Segala terobasan bapak Presiden pada berbagai bidang pelayanan kemasyarakatan di Repbulik ini, sungguh-sungguh memberi harapan baru bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali kami masyarakat desa. Apa yang disebut Alokasi Dana Desa dan Dana Desa pada penyelenggaran pemerintah di desa/negeri telah menjadi spirit tersendiri bagi semua masyarakat desa/negeri untuk terus berkembang menjadi lebih baik. Pada titik ini, kami mengapresiasi kepemimpinan bapak Presiden yang menurut kami luar biasa.

Bapak Presiden yang kami hormati!
Sesungguhnya narasi di atas berbanding terbalik dengan apa yang kami alami sebagai masyarakat Indonesia di wilayah Tone Tanah, Kecamatan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Bapak Presiden yang kami hormati!
Sebelum lebih lanjut kami sampaikan maksud dan tujuan surat terbuka ini, perkenankanlah kami menjelaskan secara singkat kepada bapak Presiden tentang siapakah kami dan bagaimana kami ada sebagai suatu kelompok masyarakat saat ini.

“Masyarakat Tone Tanah adalah kelompok masyarakat yang awal terbentuknya di sebut Resetlemen Desa Tone Tanah. Kelompok masyarakat Tone Tanah merupakan hasil suksesi program pemeritah melalui program transmigrasi lokal yang terdiri dari beberapa negeri di wilayah pemerintahan Kabupaten Maluku Tengan Provinsi Maluku.

Negeri-negeri itu antara lain: Negeri Allang di pulau Ambon; Negeri Haria dan Negeri Sirisori Islam di pulau Saparua; Negeri Akoon, Negeri Leinutu di pulau Nusalaut”. Perlu pula bapak ketahui bahwa kami tidak pernah bermimpi apalagi menuntut dan merengek-rengek minta dikeluarkan dari negeri-negeri leluhur kami melalui program transmigrasi lokal oleh pemerintah.

Bapak Presiden yang kami hormati!

Kami meninggalkan negeri-negeri leluhur kami dengan harapan besar berbangsa bernegara sebagaimana alasan utama program pemerintah melalui transmigrasi. Bahwa selain ketersebaran penduduk, kesempatan untuk pengembangan ekonomi keluarga menjadi lebih terbuka.

Hari ini 15 Januari 2024, mengingatkan kami bahwa telah 37 Tahun lamanya kami tumbuh dan berakar di bumi Pamahanu Nusa – Pulau Seram. Suatu usia yang bukan kemarin sore melainkan usia yang secara rasional phisikologis telah dewasa dalam perjalanan hidup tetapi kenyataannya sungguh memprihatinkan.

Usia 37 Tahun hanyalah potret buram tidak berarti di mata para pemimpin wilayah ini, baik eksekutif maupun legislatif. Gubernur Maluku, Bupati Maluku Tengah, Ibu-bapa anggota DPR dari pusat sampai daerah. Janji ibu-bapa-saudara-saudari di setiap agenda politik bagi masyarakat Tone Tanah hanyalah omong kosong.( KN-AS01)

Bagikan :

Kabar Nyata

Related posts

Newsletter

SAID PERINTAH MASOHI

Recent News