Next Post
Kamis, 6 Mei 2021

Komunitas KKP dan GPC di SBT Gelar Dialog Seputaran “Photograph”

IMG-20210129-WA0016

Share this:

 

Bula, kabarnyata.com — Gabungan Komunitas Kalesang Pante (KKP) dan Gumumae Photo Club (GPC) di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), kembali menggelar kegiatan dialog seputaran dunia perfiliman dan fotografi di Pantai Roleks Kota Bula, Kamis (28/01/2021).

Dialog yang mengusung tema ‘Bacarita dan Sharing Fotografi’ ini menghadirkan fotografer senior Moh Pahmin Kaisupy asal Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan videografer senior sekaligus sutradara film Ali Bayanudin Kilbaren asal Kabupaten SBT sebagai pembicara.

Kegiatan ini di pandu langsung oleh Sofyan Kastela salah satu pegiat fotogtafi yang juga wartawan Berita Kota Ambon (BKA) salah satu media cetak di Provinsi Maluku Biro Kabupaten SBT.

Sosok anak muda asal Kecamatan Kilmury jebolan IAIN Ambon yang selama ini dikenal sebagai salah satu jurnalis yang berani mengkritik secara tajam isu politik maupun sosial di Bumi Upu Latu ini tak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten SBT dan tampil memukau pada kegiatan dialog yang di gelar oleh dua komunitas tersebut.

Melalui diskusi ini, pria yang akrab disapa Opan Kastela ini kerap melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada kedua narasumbernya. Opan memang dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berani melontarkan pernyataan-pernyataan kritis untuk setiap narasumbernya baik saat meliput maupun saat menjadi moderator pada setiap kegiatan.

Moh Pahmin Kaisupy sebagai pembicara pertama pada dialog tersebut menjelaskan foto merupakan kebutuhan terbesar bagi sejumlah masyarakat saat ini. Selain itu tujuanya untuk merasakan segala hal yang tersurat dari realitas di hadapan pemotret dan bukan menekan pada keutamaan fisik sebuah subjek atau objek ataupun aspek teknis.

Kaisupy yang juga Koordinator GPC Kabupaten SBT ini menyebutkan, komunitas gumumae photo club tak membatasi siapapun yang ingin bergabung. Baik dari kalangan pelajar maupun umum. Memiliki kamera DSLR, ponsel, sampai tak punya kamera sekalipun. Hal itu semata-mata karena komunitas ini ingin ilmu fotografi tidak dimonopoli pemilik kamera bagus.

“Kami tidak memaksa untuk ikut. Namun dari inisiatif kalian sendiri agar kita sama-sama mempelajari dunia fotografi. Sebab, teori fotografi gampang-gampang mudah untuk dipahami setidaknya butuh waktu untuk mempelajarinya,” terangnya.

Tak hanya materi yang di terima, Alumni Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Ambon ini juga mempraktek ilmunya kepada sejumlah peserta yang hadir baik teori dan pemahaman dalam dunia fotografi. Menurut Dia, Secara berproses mereka akan mengetahui sendiri hal-hal yang perlu dilakukan dalam menjadi fotografer professional.

Ia menyebut, pelibatan anak-anak muda dan usia pelajar untuk memahami dunia fotografi akan memberikan dampak positif. Selain menggunakan teknologi dengan baik, mereka akan memiliki keilmuan.

“Dengan adanya dialog ini tidak hanya sekedar menyalurkan hobi, mencetak prestasi, sampai pendapatan pribadi. Termasuk menjajaki kemungkinan menyalurkan hobi itu dalam bentuk aktivitas jurnalistik,” tutur Kaisupy.

Senada Kaisupy, Pemateri kedua Ali Bayanudin Kilbaren, Sutradara film Pendayung Terakhir menjelaskan tentang sejarah awal dunia perfiliman hingga film pada era modern ini serta film dokumenter pendek yang bercerita tentang realita dengan mengambil perspektif terpenting.

Selain itu, Pria perawakan Teluk Waru Kabupaten SBT ini mengungkapkan, Peningkatkan kualitas produksi film dokumenter selain mempunyai daya kreatif, faktor dukungan juga perlu dioptimalkan, aset intelektual dan kearifan lokal, dan isu-isu perkembangan zaman juga perlu ditambahkan untuk menghibur, mengedukasi, menyampaikan sikap, inspirasi serta eksistensi.

“Tahapan untuk membuat perfiliman dimulai dari pengembangan ide dan penulisan skenario dilanjutkan dengan pra produksi dan produksi hingga pasca produksi sampai dengan distribusi perfiliman yang merupakan tahap akhir, dimana film akan disalurkan untuk penonton,” jelasnya.

Ali Kilbaren nama pendeknya, sutradara muda Film Dokumenter Pendayung Terakhir yang diketahui pernah masuk nominasi Youth Sineas Awards ini juga menyampaikan, Dunia perfiliman juga sebagai media edukasi pembelajaran diantaramya film yang mendidik untuk memberikan motivasi bagi generasi muda saat ini.

“Film ini juga menarik perhatian orang dan menceritakan dimensi ruang dan waktu yang merupakan bagian dari perjalanan sejarah untuk di ceritakan kembali pada saat ini,” pungkasnya.

Lanjut Kilbaren, Untuk peserta khususnya anak muda Ita Wotu Nusa para pecinta fotografi lebih khusus dunia perfiliman yang ingin berkreasi saatnya bangkit dengan ide dan cemerlang kita masing-masing. Terutama banyak baca serta konsumsi media koran dan lain-lain, agar kelak menjadi sutradara muda yang punya karya untuk mempersembahkan kepada negeri ini,” pesan Kilbaren.

Usai paparan materi dari kedua sosok pemateri jebolan Kampus IAIN Ambon ini para peserta di suguhkan dengan pemutaran film Pendayung Terakhir serta dihiburkan puisi oleh Fadly Mesfer sastrawan muda asal Pulau Geser dan Abdul Rahman Nabal pendiri GPC Kabupaten SBT.

Kegiatan dialog sharing fotografi ini juga dihadiri oleh Baim Abdullah Rumadaul salah satu fotografer asal SBT yang juga wartawan pada Media On Line di Maluku, Arul Rahya pegiat fotografer di SBT, Azis Alzubaidy Wartawan On Line Berita Beta, Yani Tuhuteru pendiri Komunitas Peduli Lingkungan Hidup (Kopi), Muh. Kasim Rumain Penulis Film Tamasya di TV Tetangga, Pengurus KKP dan GPC dan Peserta serta undangan lainya.*** KN-04

Kabar Nyata

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *